Nasional

Dewan Pengawas KPK yang Kita Pilih Adalah Orang-orang Baik Presiden Jokowi

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dewan Pengawas (Dewas) KPK periode 2019 2023 resmi diambil sumpah jabatannya dan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). Jokowi mengaku memilihKomisioner dan Dewan Pengawas KPK dengan alasan bahwa mereka memiliki rekam jejak dan integritas yang tidak diragukan lagi. "Beliau adalah orang baik, memiliki kapabilitas, memiliki integritas, memiliki kapasitas dalam hal yang berkaitan wilayah hukum. Memang ini kita pilih dari sudut sudut yang berbeda beda," kata Jokowi,dilansir dari YouTube Berita Satu, Sabtu (21/12/2019).

Lanjutnya, Presiden Jokowi kembali menegaskan yang dipilih adalah orang orang baik. "Ya kan sudah saya sampaikan yang kita pilih adalah beliau yang memang orang baik," ungkap Jokowi. Jokowi juga menilai orang yang terpilih tersebut merepresentasikan komposisi yang lengkap.

Sebab, di antara mereka ada yang berstatus mantan hakim, hakim aktif, eks komisioner KPK, akademikus dan eks hakim Mahkamah Konstitusi. "Saya kira sebuah kombinasi yang sangat baik sehingga memberikan fungsi, terutama fungsi kontrol dan pengawasan, terhadap komisioner KPK. Saya kira ini akan bekerja sama dengan baik dengan komisioner, hitungan kami begitu," ujar Jokowi. Jokowiberharap ke depan pemberantasan korupsi bisa lebih baik lagi sehingga memberikan dampak nyata kepada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berikut 5 formasi lengkap Dewan Pengawas KPK: Tumpak menjabat sebagai Ketua dariDewan Pengawas KPKperiode 2019 2023. Pria 76 tahun ini merupakan eks Wakil Ketua KPK periode pertama.

Dikutip dari , Tumpak menamatkan pendidikannya di bidang hukum Uniersitas Tanjungpura, Pontianak. Setelah lulus, Tumpak kemnudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dilingkungan kejaksaan. Selama menjadi jaksa Tumpak telah berkelana di berbagai daerah.

Seperti menjadi Kajari Pangkalan Bun (1991 1993), Kajari Dili (1994 1995), Kajati Maluku (1999 2000), dan Kajati Sulawesi Selatan (2000 2001). Pada 2003 ia direkomendasikan untuk bertugas di KPK oleh mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Ia pun berhasil terpilh menjadi satu diantara komisioner di KPK.

Pada 2008, Tumpak diangkat sebagai Anggota Dewan Komisaris PT Pos Indonesia (Pesero) berdasarkan Keputusan Menteri BUMN. Setahun berselang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menarik kembali Tumpak untuk menjadi Plt Ketua KPK 2009 2010. Pada 2015, nama Tumpak masuk sebagai salah satu Tim Sembilan untuk menyelesaikan kisruh Polri KPK saat itu.

Harjono merupakan lulusan Fakultas Hukum di Universitas Airlangga, Surabaya. Ia kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya di bidang hukum di Southern Methodist University, Dallas, Texas, AS. Pria yang lahir di Kota Nganjuk ini berhasil mendapat gelar Master of Comparative Law (MCL).

Dikutip dari ,sebelum menjadi Hakim, ia sempat mengajar sebagai dosen paska sarjana di UNAIR dan beberapa universitas di Malang dan Yogyakarta. Pada 1999 ia menjadi anggota MPR melalui PDI P dan turut andil dalam perubahan UUD 1945 saat itu. Harjono merupakan mantan Hakim Mahkamah Konstitusi yang lahir pada 31 Maret 1948 di Nganjuk, Jawa Timur.

Pada 2003 Harjono diajukan oleh anggota PAH I BP MPR dari PDI P untuk menjadi Hakim Konstitusi. Kemudian ia dicalonkan sebagai hakim konstitusi periode 2003 2008 oleh Megawati yang saat itu menjabat sebagai Presiden. Ia selanjutnya terpilih kembali menjadi hakim konstitusi periode 2008 2013 melalui jalur DPR.

Pada 12 Juni 2017, Harjono dilantik sebagai anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum. Srikandi Hukum ini merupakan hakim wanita di Peradilan Umum di bawah Mahkamah Agung RI. Albertina merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Setelah lulus ia menjadi pegawai negeri sipil Calon Hakim. Dikutip dari , pada 1986 ia ditugaskan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Empat tahun berselang, ia berkarir di lingkungan Pengadilan Negeri di Jawa Tengah.

Pada 2005 ia ditugaskan sebagai Sekretaris Wakil Ketua MA bidang Yudisial. Tiga tahun berselang, ia kemudian ditugaskan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sejak menjadi hakim, namanya mulai disorot karena ia menangani kasus kasus besar.

Satu di antaranya yakni kasus pegawai pajak Gayus Tambunan. Pada 2011 Albertina berhasil menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Sungai Liat. Tiga tahun kemudian ia dipromosikan menjadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri Palembang.

Hingga akhirnya ia kembali menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Medan setelah dipromosikan pada 2016. Dikutip dari ,Artidjo telah menjadi hakim agung MA sejak 2000. Rekam jejak Artidjo dalam menegakkan hukum sudah tidak diragukan lagi.

Ia dikenal menjadi momok menakutkan bagi para koruptor. Selama menjabat, 19.708 berkas perkara telah ia selesaikan. Bahkan setiap tahunnya ia menyelesaikan 1.905 perkara.

Tak memberi ampun pada koruptor, Artidjo bahkan kerap beberapa kali memberatkan hukuman pelaku tindak korupsi yang mengajukan kasasi ke MA. Adapun kasus besar yang Artidjo sempat tangani satu diantaranya yakni hukuman Anas Urbaningrum yang telah melakukan tindak korupsi Wisma Atlet. Anas dijatuhi hukuman yang tadinya 7 tahun menjadi 14 tahun penjara.

Pada 22 Mei 2018 Artidjo pensiun sebagai hakim agung MA. Pria 71 tahun ini merupakan lulusan dari sarjana hukum di UII Yogyakarta dan master of Laws di Nort Western University Chicago. Dewas KPK, Artidjo Alkostar, Albertina Ho, Syamsuddin Haris, Tumpak Hatarongan Panggabean dan Harjono.

Syamsuddin Haris adalah Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dilansir dari , pria 67 tahun ini juga merupakan Profesor Riset bidang perkembangan politik Indonesia. Ia juga doktor ilmu politik yang menjabat Kepala P2P LIPI.

Selain menjadi peneliti, ia juga merupakan dosen di Universitas Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi profesi kalangan sarjana atau ahli politik, yakni Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI). Syamsuddin juga sempat menjadi Sekjen Pengurus Pusat AIPI periode 2008 2011.

Pria asli Bima ini juga telah menulis sejumlah buku, puluhan artikel di jurnal, dan lebih dari seratus kolom di media cetak. Bahkan buku yang ia tulis, pernah mendapatkan penghargaan sebagai Buku Terbaik bidang ilmu ilmu sosial dari Yayasan Buku Utama.

Berita Terkait

Waspada di Wilayah Pekanbaru Diprediksi Hujan Petir Prakiraan Cuaca BMKG Rabu 22 April 2020

Artira Dian

Politisi Gerindra Nilai KPK Dilemahkan Gagal Geledah PDIP

Artira Dian

& LinkAja BNI OVO Ini Cara Cairkan Saldo Insentif Via GoPay Pendaftaran Kartu Prakerja Dibuka

Artira Dian

Kapolres Gunung Kidul Tahu Jumlah Pasien Covid-19 Berarti Terjun menuju Lapangan Jokowi

Artira Dian

Pendidikan wajib Keras Bahaya Kalau Nuruti HAM Kata Sujiwo Tejo Terkait Pendidikan di Indonesia

Artira Dian

Kantor KPU RI Sepi Setelah Ditemukan 21 Karyawan Positif Covid-19

Artira Dian

Pertemuan Jokowi dan Prabowi di MRT, Ini Berbagai Komentar Amien Rais

Artira Dian

Berdasarkan Ganjil-genap Nomor HP DMI Keluarkan Aturan Salat Jumat 2 Gelombang

Artira Dian

Dari Kasus Maria Pauline Bagaimana Nasib Tim Pemburu Koruptor

Artira Dian

KPK Duga Uang Korupsi Proyek Subkontraktor Fiktif Waskita Karya Mengalir menuju Banyak Pihak

Artira Dian

Kok yang Pusing Pemerintah Ngabalin Sampaikan Pesan Resmi Istana soal Nasib Pemulangan WNI Eks ISIS

Artira Dian

Penjelasan KSAU Perihal Kronologi Pesawat Tempur Jatuh ‘Pesawat Ada Kelainan Lalu Lost Power’

Artira Dian

Leave a Comment