Metropolitan

Kisah Mbah Rebo Pawang Hujan Langganan Ibu Tien Soeharto

Berkat keahliannya, Mbah Rebo (54) mampu mengamankan cuaca agar sebuah acara bisa berlangsung baik. Percaya atau tidak, pria dengan nama asli Teguh Sri Suseno itu bisa mengubah cuaca mendung yang bakal berubah hujan, menjadi terbendung. Tak sedikit masyarakat yang percaya dengan keahliannya mengatur cuaca agar bersahabat dengan pihak penyelenggara.

Pria yang sehari hari bekerja sebagai tukang sapu di sekitar Monumen Persahabatan Negara Non Blok, TMII itu, menceritakan kisahnya. Awalnya, Mbah Rebo hanya Satpam di TMII sejak tahun 1975. Ia bertugas sebagai seorang pengawal istri Presiden ke 2 Soeharto, Siti Hartinah atau akrab disapa Tien Soeharto, saat masuk ke TMII.

Berjalannya waktu, muncul keinginan dalam dirinya untuk menjadi pawang hujan. Saat mencoba pertama kali di tahun 1992, ia tidak yakin bisa menjadi pengendali hujan. "Keinginan saya sendiri. Salah satunya saya sering puasa dan meditasi. Malah bisa. Enggak turun hujan pas saya praktikkan," kata Mbah Rebo menceritakan pengalamannya.

Pamor Mbah Rebo sebagai pawang hujan kian menanjak dan dikenal banyak orang pada 2006. Kala itu, ia menahan turun hujan di acara pernikahan anak teman kerjanya di TMII. "Dulu namanya Pak Tawal, punya hajat nikahan. Dia memercayai saya untuk menangkal hujan. Padahal banyak pawang yang sudah terkenal," kenangnya.

Semenjak sukses melaksanakan tugasnya di acara pernikahan itu, tawaran demi tawaran datang kepadanya. "Di tahun itu saya mulai menjadi pawang hujan secara profesional," katanya. Kemampuannya dalam menahan hujan kian santer terdengar khalayak.

Keahlian Mbah Rebo diharapkan bisa membantu kepentingan masyarakat luas. Ia sempat dipanggil untuk membantu mengamankan cuaca di tanah Papua saat proyek pembangunan jalan. Selama 20 hari Mbah Rebo menghabiskan waktu di Papua.

"Bikin jalan dari Wamena ke Habema. Puncak Jaya ke bawah. Saya ke sana biar enggak hujan. Intensitas hujan di sana tinggi," tambahnya. Selain itu, ia sempat membendung hujan pada acara Cap Go Meh di Batam. "Dua kali saya bantu acara itu di Batam,"tambahnya.

Pihak TMII juga membutuhkan pertolongannya saat pemasangan kaca kaca di Museum Transportasi. "Kalau gerimis aja, susah masang kaca karena licin. Akhirnya alhamdulilah selama seminggu saya bantu," katanya. Mbah Rebo mengaku telah menangani sebanyak ratusan permintaan menahan hujan saat acara pernikahan.

Bahkan, lanjutnya, ia pernah menangani sembilan kali tawaran dalam satu hari saja. "Saya sehari pernah menangani sembilan tempat dalam sehari. Sebelum hari Hnl nya saya keliling. Dan tidak hujan," ujarnya. Namun, Mbah Rebo pun juga bisa menangkal hujan dari jarak jauh.

"Saya juga pernah menangani hujan dari jarak jauh. Seringnya pas acara polisi di Sukabumi. Yang Cap Go Meh itu juga dari jauh. Tinggal telepon saya saja," tambahnya. Akan tetapi, ia pernah gagal saat menangani cuaca buruk. Sebab, lanjutnya, ada sejumlah pantangan yang tak boleh dilanggar oleh Mbah Rebo.

Ia tak boleh minum air dingin maupun mandi dengan air dingin. "Waktu acara ke Sukabumi, saya nginap di sana. Tapi salahnya saya mandi air dingin di sekitar gunung Ceremai. Abis mandi langsung hujan deras," "Tapi dari ratusan acara nikahan, hanya gagal tiga kali. Tapi wedding alhamdulilah selalu lancar," katanya.

Selain menahan hujan, ia juga mampu untuk memanggil hujan turun. Jasanya itu pernah diminta oleh pihak Lanud Halim Perdana Kusuma untuk membasahi sekitaran area Lanud. "Saya disuruh hujanin karena rumput kering di musim kemarau kan takut kebakaran. Saya bantu untuk turunkan hujan, alhamdulilah, percaya enggak percaya," tambahnya.

Saat awal belajar menjadi pawang hujan, Mbah Rebo dibayar berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Kini, jasanya kian menanjak seiring dengan banyaknya pihak penyelenggara acara yang memercayai keahliannya itu. "Rata rata itu Rp 1 sampai Rp 3,5 juta. Pernah ada yang lebih sekali acara bisa Rp 5 juta. Setiap musim hujan pasti ada," terang pria dengan anak satu itu.

Dari profesinya itu, Mbah Rebo bisa menghidupi anaknya hingga mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Mbah Rebo bisa menangani permintaan kapan saja sesuai dengan kebutuhan masyarakat. "Saya bisa kapan saja. Sebelum hari H bisa, bahkan pas dadakan di hari H itu juga bisa. Saya sudah tahu seluk beluknya," terangnya.

Di kala musim hujan, permintaan yang datang kepadanya membeludak. "Apalagi kalau bulan Januari, banyak. Kan Januari artinya Hujan Tiap Hari," ujarnya berkelakar.

Berita Terkait

Walikota Ajak Peserta Kolaborasi Hadapi Ekonomi Industri 4.0 Rakorkomwil III APEKSI Resmi Dibuka

Artira Dian

Satgas Pangan Polri Belum Temukan Adanya Penimbunan ‎Harga Bawang & Gula Naik

Artira Dian

Aktor Hollywood Leonardo DiCaprio Soroti Sampah Bantar Gebang, Ini Reaksi Gubernur Anies.

Artira Dian

Habibi Kini Petugas PPSU Kelurahan Lebak Bulus Bisa Bawa Pesawat Cesna & Helikopter

Artira Dian

Wanita Ini Jauh Jauh Dari Kalimantan Selatan Ke Jakarta Untuk Kawal Sidang Putusan MK

Artira Dian

Ulama FPI Bantu Polisi Halau Massa dari Luar Jakarta yang Bikin Rusuh di Flyover Slipi

Artira Dian

Ini Kisah Putra Pratama Beralih Profesi Semasa Pandemi Covid-19 sebagai Tenaga Medis di Wisma Atlet

Artira Dian

Mengedukasi Warga Jaga Lingkungan Bersih dan Pembagian Paket Sembako kepada Warga Pesisir Kalibaru

Artira Dian

9 Pria Pengeroyok Babinsa Hingga Tewas Akhirnya Ditangkap Dipicu Dendam Urusan Wanita

Artira Dian

Kuota 2.500 Kursi Program Mudik Gratis Kereta Api Tersisa Hanya Dua Persen

Artira Dian

Anggaran Ganjil Pengadaan Alat Peraga di SMKN PDIP DKI Emang Bisnis Manajemen Ada Pasirnya

Artira Dian

Pakar Tata Kota Ungkap Lokasi Penggusuran di Sunter Jakarta Utara adalah Area Penghubung Saluran Air

Artira Dian

Leave a Comment