Metropolitan

Pendapatan Turun Hingga 75 Persen Keluh Kesah Sopir Taksi di Tengah Wabah Corona di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga saat ini masih memberlakukan jaga jarak, bekerja dan belajar di rumah bagi warganya dalam menekan sebaran virus corona atau Covid 19. Namun tidak semua warga, DKI Jakarta khususnya, yang bisa bekerja di rumah. Ada profesi tertentu yang mengharuskan dia bekerja di luar.

Tidak hanya dokter atau jurnalis, sopir taksi juga mau tidak mau tetap bekerja di luar rumah. Tanpa keluar rumah, barangkali kebutuhan anak dan istri mereka sehari hari tak bisa tercukupi. Di depan Mercure Hotel, Mampang Prapatan,JakartaSelatan, sejumlah taksi Blue Bird terparkir.

Ada sopir yang tertidur di dalam mobil, ada yang membeli minuman hangat murah meriah yang dijajakan pedagang keliling. Ada juga yang tengah berbincang dengan rekan rekannya di tepi trotoar. Di dekat tempat pool taksi itu, para sopir ojek dalam jaringan (daring) pun juga tengah menepikan motornya.

Mereka memilih berkumpul sembari sesekali melirik orderan masuk lewat ponselnya. Ramainyasopirtaksidan ojek berkumpul, tak dibarengi dengan banyaknya penumpang alias sepi. Jejen Zunaidi (48) sudah 14 tahun menjadisopirtaksi.

Ia mengaku pendapatannya merosot drastis semenjak wabah corona yang membuat warga Ibukota geger. Sudah dua hari, ia baru mendapatkan satu penumpang saja. Sembari menyeruput teh panas dari gelas plastik, ia mengatakan pendapatannya turun hingga 75 persen.

Tapi situasi terbalik ketika pandemi Covid 19 mampir ke Indonesia. "Sekarang, seharian belum tentu dapat (penumpang)." "Asli, emang bener bener sunyi bukan sepi lagi di jalan sekarang," imbuh dia.

Bila karantina wilayah diberlakukan pemerintah, Jejen tak masalah. Asalkan, ia mendapatkan bantuan dari pemerintah. "Kalau saya berharap pemerintah memberikan bantuan sembako kepada kita."

"Selain itu urusan cicilan mohon tegas untuk ditangguhkan," ungkap pria yang masih mencicil motor tersebut. "Saya tuh udah jadi ODR, Orang Dalam Risiko," aku dia. Jejen mengaku terpaksa keluar di tengah wabah virus yang belakangan membuat gelisah warga dunia.

Kalau bukan soal perut, dia tak bakal terpaksa bergelut di jalanan berdebu. "Saya tuh udah jadi ODR, Orang Dalam Risiko," aku dia. Tapi kan kembali lagi ke kita, terpaksa keluar karena memang buat penghasilan," sambungnya.

Kisah Rifaat (31) lain cerita. Meski belum berkeluarga, pemuda asal Majene, Sulawesi Barat, ini punya kewajiban yang harus ditunaikan setiap bulan. Meski belum setahun bekerja sebagaisopirtaksi, Rifaat sudah dihadapkan dengan pengalaman getir menjadi sopir.

Ia harus menunda mengirim uang untuk kebutuhan hidup neneknya di kampung lantaran wabah tersebut. "Orangtua sudah enggak ada (wafat). Penghasilan saya buat nenek di kampung," ucap Rifaat. "Tiap bulan pasti ngirim. Tapi bulan ini enggak bisa karena situasinya begini," beber mantan sopir perusahaan itu.

Sejak subuh sampai tengah hari tadi, Rifaat belum mendapatkan penumpang. Dampak wabah corona, juga dirasakan oleh Yadi Arianto (50). Pria yang sudah bekerja selama 12 tahun jadisopirtaksiitu harus bisa mencari siasat agar kebutuhan hidup keluarhanya terpenuhi.

Yadi pun tak ada pilihan selain meminjam kepada saudaranya yang dirasa mampu. "Terus terang, istri saya enggak kerja," ucap Yadi. "Minta pinjeman dari saudara yang lebih mampu."

"Kalau enggak dapur enggak ngebul," beber pria dengan dua anak tersebut. Ia masih memiliki beban tanggungan kepada anaknya yang bungsu lantaran masih duduk di bangku SMA kelas Tiga. Sementara anak sulungnya telah berkeluarga.

Yadi berharap bantuan langsung tunai (BLT) untuk warga kecil dapat direalisasikan pemerintah. "Kalau memang ada BLT saya enggak perlu berkeliaran di jalan." "Saya keluar rumah ini karena terpaksa," ujar pria asli Cimanggis, Depok itu.

Berita Terkait

Pelaku Kabur setelah Bertatap Muka Pengakuan Korban Penyerangan Kelompok John Kei

Artira Dian

Sosok Pria Misterius yang Tinggalkan Uang Rp 500 Juta di Gerbong KRL & Penjelasan Mujenih

Artira Dian

Maling Motor Ini Ketahuan Korbannya Setelah Jual Hasil Kejahatannya di Facebook

Artira Dian

Pengawasan 66 RW Zona Merah Diserahkan menuju RW Setempat Kasatpol PP DKI

Artira Dian

Pemprov DKI Jakarta wajib Pasang Rambu Lalu Lintas Sebelum Berlakukan Ganjil Genap buat Motor

Artira Dian

Lulusan IPDN Ramai Incar Posisi Ini Gaji PNS DKI Jakarta Bisa Mencapai Rp 28 Juta

Artira Dian

Kecamatan Pulogadung Kirimkan Dewan Kota Termuda Jakarta

Artira Dian

Pria di Cipayung Bakar Diri Karena Stres Bayar Cicilan Mobil & Diancam Cerai Istri

Artira Dian

Wanita Ini Jauh Jauh Dari Kalimantan Selatan Ke Jakarta Untuk Kawal Sidang Putusan MK

Artira Dian

Kisah Mbah Rebo Pawang Hujan Langganan Ibu Tien Soeharto

Artira Dian

Sri Wahyuni Pergoki Komplotan Maling Gasak Sepeda Motor dari Garasi Rumahnya di Jakarta Barat

Artira Dian

Ikatan Hakim Serahkan Kasus Tewasnya Jamaludin menuju Polri Tolak Berspekulasi

Artira Dian

Leave a Comment